1. Urgensi
Dakwah
Urgensi dakwah bagi kita bisa
dilihat dari tiga sudut pandang yaitu dari sisi pelaku, sisi obyek dan sisi
penegakan Islam. Ketiganya saling terkait, yang jika dakwah tidak dilaksanakan dengan
serius akan menimbulkan dampak buruk bagi ketiga aspek tersebut. Realitas masa
kini menjadi cermin nyata lemahnya peran dakwah dalam memperbaiki kondisi
masyarakat.
Pertama, sisi pelaku. Pelaku di sini bermakna setiap jiwa yang berstatus
muslim/muslimah. Sebab dakwah merupakan naluri yang akan muncul secara otomatis
jika seseorang sadar bahwa dirinya muslim. Maka bila ada muslim yang tak punya
kesadaran dakwah, dia sedang tidak sadar bahwa dirinya berstatus muslim.Dakwah
sebagai naluri sama halnya dengan naluri kebencian terhadap babi disebabkan
keharamannya. Setiap muslim yang menyadari keislamannya, pasti memiliki naluri
kebencian terhadap babi, minuman keras, kecabulan, kezaliman, perjudian, riba
dan sebagainya. Sebagaimana naluri kecintaan terhadap kesalihan, kejujuran,
keimanan, ketaqwaan, busana muslim, ungkapan islami dan sebagainya. Demikianlah
dakwah, akan lahir sebagai naluri jika keislaman kita benar dan sadar berstatus
muslim.Apalagi modal yang dibutuhkan untuk dakwah juga tidak harus menunggu
menjadi ulama.
Rasulullah
saw bersabda:
“Sampaikan
apa yang engkau ketahui dariku meski satu ayat”. Juga sabdanya:
“Siapa yang menunjukkan orang lain kepada kebajikan, ia akan mendapatkan pahala
pelakunya”. (HR. Muslim)
Dapat dikatakan, dakwah merupakan kewajiban yang
melakat pada jiwa raga seorang muslimah. Tak ada yang bisa dan boleh
mengingkari kenyataan ini. Oleh karenanya, dalam Al-Qur’an dakwah diposisikan
sebagai “alasan yang bisa diterima” untuk melepaskan diri dari beban dosa yang
terjadi di tengah masyarakat.
Allah berfirman tentang ini:
”Dan
(Ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati
kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang
amat keras?” mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung
jawab) kepada Robbmu, dan supaya mereka bertakwa” (Q.S Al-A’raaf:164)
Da’i tak boleh ambil pusing
dengan kekhawatiran bahwa dakwah yang disampaikan akan diabaikan oleh obyek
dakwah, karena untuk hal ini kita serahkan kepada kekuasaan Allah semata. Misi
da’i adalah melaksanakan kewajiban yang menjadi bebannya. Bila kita tak
melaksanakannya, kita akan turut dipersalahkan kelak di akherat.
Kedua, sisi obyek. Bagi
obyek dakwah, adalah upaya meluruskan pemahaman masyarakat dari berbagai
penyimpangan pemikiran (syubuhat) dan menghentikan praktek dan amalan
berdasarkan hawa nafsu (syahawat). Dua hal ini dipandang sebagai akar semua
masalah keislaman. Dakwah berfungsi memberitahu bagi yang belum tahu,
meluruskan jika masih ada yang keliru, dan mengajak semua obyek dakwah untuk
turut serta memberikan kontribusi dalam mengamalkan dan menegakkan Islam. Islam
bukan agama ilmu, atau spiritual semata, tapi juga agama yang hidup dalam
dinamika amal dan perjuangan.Kita harus dengan sadar memahami bahwa obyek
dakwah adalah orang-orang yang beragam corak dan warnanya. Baik dari segi
mazhab, ilmu, suku, minat dan sebagainya. Tapi semuanya dipersatukan oleh satu
kenyataan; mereka semua sedang membutuhkan dakwah meski lisannya mengaku tidak
membutuhkannya.
Ketiga, sisi penegakan Islam. Islam
ditegakkan dengan kombinasi antara dakwah dan jihad. Bila keduanya
dibandingkan, dakwah lebih lama dibanding jihad. Bahkan bisa dikatakan, pada
fase jihad dakwah tetap berlangsung.Dengan demikian, dakwah tak memiliki masa
jeda dalam proses menagakkan Islam.Dakwah berlaku pada masa damai maupun masa
perang, bahkan pasca Islam sudah tegak dengan kokoh. Dakwah bisa membonceng
pada semua kegiatan yang digunakan dalam menegakkan Islam.
2. Tujuan Utama Dakwah: Hidayah
Manusia tak akan selamat jika
tak mengikuti hidayah (petunjuk kebenaran). Sebab manusia tak bisa merumuskan
sendiri jalan hidupnya, dan menilai sendiri apa yang baik dan apa yang buruk
bagi dirinya. Manusia dibatasi oleh akal dan pengalaman inderanya, yang
karenanya tak mampu menilai secara obyektif terhadap dirinya sendiri. Manusia
akan cenderung menganggap baik terhadap segala sesuatu yang sesuai dengan
nafsu, keinginan dan idenya. Sementara sesuatu yang bertentangan dengan nafsu,
keinginan dan idenya, akan dinilainya salah.
Hidayah harus dirumuskan oleh
pihak selain manusia. Dirumuskan oleh zat Yang Maha Tahu dan Maha Kasih Sayang
kepada manusia. Zat yang menciptakan manusia.Rasulullah saw diturunkan untuk
menjelaskan hidayah ini, sehingga semua manusia memiliki neraca (mizan) yang
bersifat baku, berlaku secara global dan lintas jaman. Neraca berguna untuk
menengahi perbedaan ide akal manusia dan pengalaman hidupnya.Hidayah ada dua
macam yang masing-masing dibutuhkan manusia:
Pertama, hidayah taufiq. Hidayah ini merupakan
kewenangan dan karunia Allah yang Allah berikan kepada siapa yang Dia
kehendaki. Berupa kecondongan hati dan pikiran untuk menerima kebenaran.
Hidayah ini kadang hadir tanpa direncanakan oleh manusia, bahkan tanpa diawali
dengan proses berilmu atau memahami. Tapi tentu saja lebih sering melalui
mekanisme ilmu baru lahir hidayah taufiq.Allah berfirman:
“Sesungguhnya
kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi
Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih
mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (Al-Qashas:56)
Kedua, hidayah dalalah. Hidayah ini adalah ilmu dan
penjelasan akan kebenaran. Hidayah ini terjadi melalui majlis ilmu, pendidikan
dan dakwah. Peran da’i adalah mengajarkan ilmu dan menjelaskan kebenaran kepada
obyek dakwah hingga mengerti. Allah berfirman:
“Dan Demikianlah kami wahyukan kepadamu wahyu (Al
Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al
Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami
menjadikan Al Quran itu cahaya, yang kami tunjuki dengan dia siapa yang kami
kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar
memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. (Q.S Asy-Syura:52)
Pada batas inilah kewajiban
kita, yaitu memahamkan syariat kepada semua umat manusia. Tentu saja dengan
dilengkapi semangat maksimal dan metode terbaik sehingga memudahkan dalam
proses menyampaikan dan memahamkan. Da’i tidak boleh apatis, dan hanya
bersandar pada argumen klasik:‘yang
penting sudah saya sampaikan’.
3. Tujuan Dakwah Muslimah
Dakwah yang diarahkan terhadap wanita
muslimah harus berusaha untuk/ setidaknya melayani tujuan sebagai berikut:
Memperkuat Iman, Hal
tersebut dilengkapi dengan kegiatan ibadah yang meningkat, mengingat Allah
(berdzikir), dan refleksi pada nama Allah, dan kekuasaan-Nya dan penciptaan
dalam diri kita dan di alam semesta. Namun ini, tidak akan mungkin tanpa
penanaman pemahaman yang benar tentang isu-isu tertentu yang terkait dengan
'Aqidah kita, dan penekanan terhadap Tauhid.
Meningkatkan pengetahuan, Tanpa
itu seseorang tidak bisa mencapai banyak. Penekanan khusus harus diletakkan
pada dasar-dasar Islam dan pada mata pelajaran terkait kebutuhan bahwa da'iyah
di lingkungan nya. Pengetahuan tentang paham, ide, kelompok dan sekte yang
menyimpang dari Islam. Kesadaran harus dibangkitkan mengenai mereka yang tidak
ingin melihat penyebaran Islam dan yang memperoleh dasar dalam hati dan pikiran
orang-orang.
Membangun kepribadian Dakwah, Dakwah
membutuhkan pengorbanan dan karena itu perempuan harus siap untuk menanggung
‘biaya' keuangan yang mungkin dikeluarkan untuk Islam. Ini datang dengan tujuan
kebangkitan umat Islam dan mengkounter upaya-upaya musuh Islam. Kepemimpinan,
tanggung jawab dan inisiatif individu harus diajarkan. Fakultas pendidikan
teoritis dan praktis harus dipupuk. Para da'iyah harus diajarkan keterampilan
sosial yang diperlukan dan pentingnya Dakwah melalui contoh yang baik dan
tindakan. Mereka juga harus diajarkan konsep nilai waktu, manajemen dan
bagaimana menggunakan kegiatan yang menyenangkan dan halal selama waktu luang
mereka.
Membangun kekebalan terhadap dosa, Ini
termasuk mengenali penyakit-penyakit dosa, terutama yang berkaitan dengan
perempuan, dan menghalangi jalan menuju dosa tersebut dengan menghindari
hal-hal, kegiatan dan tempat yang akan menjadi pintu terbukanya dosa.Persiapan
psikologis dengan memastikan bahwa da'iyah memiliki iman dalam ketulusan Allah,
harapan, cakupan dalam kebenaran, kebanggaan dalam Islam, kesabaran, dan
pengetahuan tentang kondisi dan lingkungan dari orang yang mereka menangani.
Ini adalah aspek yang sangat penting dari kesiapsiagaan, karena pendakwah
terikat kepada orang-orang, yang memiliki karakter dan kecenderungan yang
berbeda.
Da'iyat yang memberikan kuliah, seminar,
khotbah, dan lain-lain harus mampu membujuk para pendengar dengan mengatasi
pikiran mereka melalui bukti dan bukti. Mereka juga harus mampu membangkitkan
nafsu mereka, emosi, dan perasaan. Mereka harus berlatih menyampaikan ceramah
untuk perempuan di masjid-masjid, sekolah, atau tempat lain di mana wanita
berkumpul. Mereka juga harus mengawasi dan membimbing peserta wanita, dan
dengan lembut memperbaiki kesalahan mereka.
Bidang kepenulisan dan penerbitan tidak boleh
diabaikan dalam zaman ketika manusia dapat dengan mudah mengakses segala hal
melalui buku, booklet, surat kabar, dan internet. Tulisan harus meyakinkan,
melalui argumen yang jelas, dan disebarkan tentunya.Menulis adalah bentuk salah
satu cara dakwah paling tepat dan penting bagi perempuan. Mereka dapat menulis
di rumah dan dengan demikian mampu memanfaatkan waktu luang mereka secara
positif dan tentunya dengan cara ini mereka dapat menjangkau semua kelas
masyarakat.
B.
PERAN MUSLIMAH DALAM DAKWAH
1. Pendamping Suami
Tidaklah berlebihan kiranya jika disebutkan bahwa
di balik setiap laki-laki besar ada seorang wanita di belakangnya. Ada peran
penting yang dimainkan seorang wania dalam mendukung kebesaran namanya. Apapun
profesinya, apapun bidangnya, apapun kehebatannya. Mereka tak mungkin melaju ke
depan sedemikian rupa dengan sendirinya. Selalu ada keuletan, kesabaran,
kesetiaan, dukungan, pengorbanan dan doa seorang ibu atau seorang istri
baginya.
Ketika Rasulullah Salallahu ‘alayhi wassalam diutus ke
dunia, beliau bersabda, “Sesungguhnya
wanita itu adalah pendamping pria” (HR Ahmad dan Abu Daud). Sejak saat itu
paradigma pemikiran dan perlakuan terhadap wanita berubah seratus delapan puluh
derajat. Derajat wanita diangkat dan dimuliakan. Wanita dikatakan sebagai
pendamping pria karena pada setiap kesuksesan seorang pria, pasti ada peran
wanita yang sangat signifikan. Apakah peran sebagai seorang ibu atau seorang
istri. Banyak tokoh-tokoh menjadi penting dan terkenal lantaran ditopang oleh peran
wanita. Maka, atas perannya yang demikian, wanita sering disebut sebagai tokoh
penting di belakang layar.
Dalam suatu aktivitas dakwah,
bukan hanya sosok laki-laki tetapi juga wanita mutlak diperlukan, seperti
dicontohkan oleh para istri nabi dan shahabiyah pada generasi terdahulu.
Bagaimana wanita juga ingin ikut dalam barisan dakwah rasulullah. Karena
wanita-wanita tangguh tersebut tidak hanya ingin berdakwah di rumah, dengan
menjadi istri dan ibu yang baik tetapi juga ingin berkontribusi di dunia luar.
Akan tetapi ada satu hal yang mungkin banyak terlupakan oleh wanita muslimah
pada era modern ini, dakwah kita di “dunia luar” tidak boleh mengabaikan
kewajiban-kewajiban kita di rumah. Karena dakwah di rumah tetap nomor satu dan
merupakan penyokong yang akan memberikan kita energi untuk juga aktif di luar
rumah. Karena banyak kita ketahui, akhwat-akhwat yang dengan kesibukannya di
luar secara tidak langsung mulai lengah dengan pembagian waktu dengan keluarga
yag tidak seimbang dengan personal judgement bahwa di awal pernikahan sudah
berkomitmen bahwa kepentingan dakwah di atas kepentingan keluarga. Padahal
jelas-jelas tahapan dakwah itu dimulai dari pembentukan pribadi muslim (binaúl
fardhil muslim), kemudian pembentukan keluarga muslim (binaúl usrah
muslimah), dan setelah itu bisa ditangani baru masuk ke area dakwah yang
lebih luas yaitu memperbaiki masyarakat (islahul mujtama’) atau bahkan
sampai pada area dakwah untuk memperbaiki pemerintahan (islahul hukumah).
Pembentukan pribadi muslim dan keluarga muslim menjadi syarat utama yang harus
dipenuhi terlebih dahulu dan harus selalu dijaga oleh seorang muslimah sebelum
mereka masuk ke area dakwah yang lebih luas lagi.
Peran muslimah dalam dakwah pada dasarnya memperkuat
kerja dakwah pria. Setelah menikah,
muslimah tak lagi sendiri. Ada suami yang menggenapkan separuh diennya.
Berharap azzam dalam dakwah dan iqomatuddien semakin kuat dengan komitmen dan
kebersamaan. Bersama menegakkan keluarga muslim ideal di tengah dasyatnya
fitnah dunia. Bersinergi saling bahu membahu membangun tunas-tunas baru
peradaban, saling meyempurnakan tugas dan kewajiban masing-masing meurut
syariat Islam yang adil dan sempurna.
Menilik jejak serajah islam, sejak dakwah Islam lahir
pada tahun pertama kenabian, sejak saat itu pulalah peran muslimah dimulai.
Maka kita pun mendapatkan hadits kedua Imam Bukhari menjadi bukti kontribusi
pertama muslimah dalam dakwah. Saat Rasulullah tiba di rumah dari gua Hira
dengan pengalaman spiritualnya yang luar biasa, beliau masih
dalam ketakutan. Satu hal yang wajar sebab beliau baru saja bertemu dengan
makhluk yang tidak biasa beliau lihat. Lebih dari itu beliau mendapatkan
tanggungjawab besar sebagai nabi.
Dalam kondisi seperti itulah
beliau berkata: "Zammilunii...
zammilunii..." (Selimuti aku, selimut aku..). Khadijah mengerti. Ia
melakukan perannya. Ia wanita pertama yang telah berhasil menyemaikan dakwah
yang saat itu baru mengecambah agar tetap bertumbuh. Maka Khadijah tidak hanya
menyelimuti Rasulullah agar kondisi fisiknya membaik. Lebih dari itu Khadijah
memotivasi sang suami agar yakin bahwa tidak ada hal yang salah pada dirinya. "Jangan takut, demi Allah, Allah tidak
akan membinasakan engkau. Engkau selalu menyambung tali persaudaraan, membantu
orang yang sengsara, mengusahakan barang keperluan yang belum ada, memuliakan
tamu, menolong orang yang kesusahan karena menegakkan kebenaran."
Begitu pandainya Khadijah meyakinkan.
Tidak berhenti di situ.
Khadijah juga membawa Rasulullah Salallahu ‘alayhi wassalam kepada pamannya. Waraqah bin Naufal, sang ahli kitab. Dari
sanalah keyakinan keduanya semakin mantab. Ya, Muhammad telah menjadi Nabi.
Maka sejak saat itu sejarah dakwah ditulis. Namun ia telah ditulis dengan
adanya peran muslimah. Khadijah yang pertama kali percaya dan menjadi muslimah.
Khadijah ummul mukminin radhiallahu ‘anha yang
memberikan langkah awal dan teladan pertama bagi kiprah muslimah berikutnya.
Demikianlah sejarah Islam mencatat bahwa Khadijah binti
Khuwailid radhiallahu ‘anha, istri Rasulullah Salallahu ‘alayhi wassalam adalah
wanita yang pertama kali menyambut dakwah Islam, beliau juga memberikan
kenyamanan, bantuan, dan dukungan kepada Nabi Muhammad Salallahu ‘alayhi
wassalam, yang menjadikan bukti terbesar dari sangat pentingnya peran ini. Dan
manusia pertama yang syahid di jalan Allah juga seorang wanita, yaitu Sumayyah.
Selain Khadijah dan Sumayyah radhiallahu ‘anhuma, masih
banyak wanita-wanita Islam yang namanya abadi. Di antara mereka ada Aisyah radhiallahu
‘anha, Ummu Sulaim, Sumayyah, Nusaibah, Asma binti Abu Bakar, dan masih banyak
wanita lain yang memegang peranan penting dalam perintisan dakwah Rasulullah
Salallahu ‘alayhi wassalam di Mekkah dan Madinah.
Dalam realitas kehidupan
seorang mujahid, seorang istri harus menyadari benar konsekwensi jalan yang ditempuhnya.
Sehingga ia tidak berangan-angan sesuatu yang mustahil diraihnya. Dan
implikasinya, ia bisa mengambil peran dan memberikan kontribusi yang tepat dan
terbaik sesuai kemampuannya. Suaminya bukan seperti suami kebanyakan yang
bekerja, pergi pagi pulang sore, membawa rizki dunia, selalu ada setiap saat,
bercengkerama setiap hari dalam sebuah rumah yang nyaman serta angan-angan lain
yang mungkin sempat menyelinap dalam hati dan fikiran manusiawi seorang istri.
Jauhkanlah angan-angan itu yang membuat kita menjadi lemah dan pengecut.
Kemuliaan bukan terletak pada seberapa banyak kita menikmati kehidupan dunia.
Justru dunialah yang menjadi penghalang terbesar bagi seseorang untuk menapaki
jalan kemuliaan, yakni jalan jihad fie sabilillah.
Ummul Mukminin, Khodijah
adalah qudwah backup terbaik bagi dakwah dan perjuangan
Rasulullah Salallahu ‘alayhi wassalam. Kepercayaan beliau, dukungan penuhnya
dengan seluruh jiwa raga dan hartanya, perlindungannya, perasaan aman dan
tentram yang beliau hadirkan di tengah kegundahan dan ketakutan Rasulullah saat
menerima wahyu yang pertama kali, juga solusi nyata yang beliau berikan dengan
mengajak Rasulullah menemui pamannya, Waraqah bin Naufal, adalah kenangan yang
tak tergantikan bagi Rasulullah sehingga Aisyah pernah sangat cemburu
kepadanya. Oleh sebab itu pula Jibril datang menyampaikan salam untuknya.
Marilah kita contoh
keteladanan ini supaya hati kuat, sehingga kita bisa selalu mendampingi
perjuangan suami, memudahkan dan membantu seluruh urusannya, bukan sebagai penghambat
di jalannya. Allahu Musta’an.
2. Dakwah
Terhadap Muslimah yang Lain
Hal pertama yang perlu
dilakukan aktifis dakwah muslimah adalah introspeksi. Introspeksi nasib
kaumnya. Memahami realitas muslimah. Realitas muslimah sebagai pribadi, dalam
keluarga, dan realitas masyarakatnya. Secara jujur kita akan menemukan kata
kunci untuk menggambarkan realitas muslimah masa kini, lemah!
Sebagai pribadi, banyak
muslimah di negeri ini yang masih mengalami kekeringan jiwa, tidak memahami
tujuan penciptaannya, dan dilanda keputusasaan. Pendek kata, mereka masih jauh
dari Islam. Seorang muallaf, Yusuf Islam (Dulu Cat Steven) ketika memberikan
ceramah di Jakarta pada tahun 90-an, ia mengungkapkan keheranannya, tidak
menyangka kalau di negeri ini berpenduduk mayoritas muslim. Karena ia melihat
di jalan-jalan yang dilaluinya yang ia temukan justru wanita-wanita yang tidak
menutup aurat.
Realitas keluarga di
Indonesia tidak jauh berbeda dari kondisi di atas. Secara ekonomi banyak keluarga
yang miskin dan bodoh secara pendidikan. Keduanya lalu dipertahankan oleh
keluarga-keluarga baru yang terbentuk tanpa kesiapan yang memadai. Tidak siap
membangun keluarga, juga tidak siap mendidik anak-anak yang lahir nantinya.
Maka kemiskinan, kebodohan, ketidaksiapan itu seperti telah menjadi lingkaran
setan yang sulit diputuskan.
Lalu masyarakat. Ia juga
tidak lebih baik dari keduanya. Karena pada dasarnya masyarakat adalah bangunan
besar dari keluarga-keluarga yang tentu saja terdiri dari individu-individu.
Diantaranya adalah muslimah, yang bahkan menjadi unsur terbesar pembentuk
masyarakat. Realitasnya, masyarakat kita saat ini telah terserang berbagai
penyakit. Mulai dari individualisme, hedonisme, sekuler, sampai pornografi.
Realitas yang demikian, bagi
aktivis dakwah muslimah, seharusnya menjadi pemicu dan tantangan tersendiri
untuk meningkatkan kontribusinya dalam memperjuangkan Islam. Realitas ini -yang
jika dipahami dengan baik- akan mendorong semakin kuatnya azzam untuk melakukan
perubahan dan perbaikan. Akan menjadi landasan mengapa muslimah harus
berkontribusi dalam dakwah.
Berikut adalah beberapa alasan betapa pentingnya
kontribusi perempuan dalam bidang Dakwah (terhadap Muslimah yang lain):
a. Wanita lebih mampu daripada laki-laki yang dalam
berkomunikasi dengan perempuan lain. Wanita biasanya lebih dipengaruhi oleh
kata, perbuatan, dan perilaku perempuan lain. Wanita lebih mampu mengenali
kekhasan dan masalah yang terkait dengan pendidikan perempuan dan tarbiyah.
b. Wanita dapat memahami dengan lebih baik ke arah mana
dakwah terhadap perempuan harus diarahkan. Mereka yang terbaik dapat melihat
urutan prioritas, karena mereka lebih akrab dengan bidang ini.
c. Wanita lebih bebas daripada pria dalam berkomunikasi
dengan perempuan lain, baik secara individual untuk kegiatan Dakwah, atau dalam
kegiatan belajar, forum lain dan tempat-tempat pertemuan.
d. Banyak wanita Muslim yang membutuhkan bimbingan,
pendidikan, namun kurangnya kehadiran lembaga yang dapat menyediakan layanan
ini, karena itu sangat masuk akal bahwa perempuan yang berkualitas di
masyarakat harus ‘menawarkan' diri sebagai pembimbing bagi saudari seimannya.
e. Permasalahan terkait pendidikan dan kebutuhan tarbiyah
perempuan yang lebih besar dari laki-laki. Mereka hamil, melahirkan, dan
merawat anak-anak. Anak-anak lebih terikat dengan ibu mereka daripada mereka
kepada ayah mereka.
f. Perempuan memiliki efek besar pada suami mereka. Jika
mereka memiliki Iman yang kuat dan karakter, mereka memiliki kesempatan yang
sangat baik untuk membantu suami mereka menjadi kuat juga.
g.
Wanita memiliki banyak karakteristik yang menekankan
pentingnya peran Dakwah mereka. Mereka juga harus diperhitungkan setiap kali
ada pekerjaan Dakwah direncanakan.
C. KENDALA DAKWAH
Kini kita hidup
di era yang berbeda. Sejarah dakwah telah berusia lebih dari empat belas abad
sejak muslimah pertama berperan menyokongnya. Kita kini hidup di abad modern
yang memiliki karakteristik zamannya sendiri. Banyak hal yang telah berubah.
Meski demikian dakwah
terhadap perempuan adalah keharusan, bahkan perempuan sendiri juga terikat akan
kewajiban berdakwah. Karena pada dasarnya berdakwah adalah kewajiban bagi
seluruh Muslim. Terlebih dari kaum perempuan sendiri cenderung, ‘meninggalkan'
dan menjauhi aktivitas dakwah itu sendiri. Hal tersebut memunculkan beberapa
permasalahan dan hambatan berupa kurangnya tenaga dakwah dari kaum perempuan,
antara lain:
- Kurangnya kemampuan Dakwah oleh perempuan.
- Terbatasnya sumber daya serta kurangnya inisiatif pribadi pada pihak perempuan.
- Adanya pengabaian atau kelalaian terhadap isu-isu perempuan dalam perencanaan Dakwah Islam.
- Tidak adanya tarbiyah yang kuat dan kurangnya pengetahuan Islam di bidang Dakwah.
- Kebanyakan wanita tidak memiliki pemahaman yang tepat terkait peran Dakwah, karena itu, mereka tidak dapat memahami pentingnya waktu yang diberikan untuk proyek-proyek dakwah di luar rumah, sehingga seringkali menimbulkan permasalahan dalam rumah tangga dikarenakan ‘suami yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk urusan dakwah.
- Program dakwah oleh lembaga terhadap wanita belum terorganisasi dengan baik.
Selain permasalahan tersebut, juga ada
banyak kendala dalam melaksankan dakwah ilallah, diantaranya:
a. Kendala psikologis, seperti
munculnya rasa cemas dan takut yang dihembuskan syetan di dada kaum muslimin.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya
mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan
kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), Karena itu janganlah kamu takut
kepada mereka, tetapi takutlah kepadaku, jika kamu benar-benar orang yang
beriman.” (Q.S Al-Imran: 175)
b. Adanya hambatan nyata yang
datang dari obyek dakwah seperti caci maki, cuek, memusuhi, mengusir dan
sebagainya. Ibnu Taimiyah berkata: Ujian dan kendala ibarat siang dan malam,
pasti akan datang silih berganti. Siapa yang memahami fakta ini, ia tak akan
kesal atau murung karenanya.
c. Kemiskinan yang menimpa para
da’i sehingga menghambat dakwah. Kemiskinan menjadi penghambat jika seseorang
tidak kuat azamnya. Namun jika azam atau tekadnya bergejolak, kemiskinan
bukanlah hambatan. Tapi kerap terjadi sebaliknya, kekayaan yang lebih potensial
melemahkan semangat dakwah.
d. Mental dakwah yang labil,
sehingga semangatnya tak bertahan lama. Pasca daurah semangat dakwah tinggi, tapi
setelah sibuk dengan rutinitas pekerjaan kembali kendur semangatnya. Solusinya,
berkawan dengan para da’i dan membaca kisah-kisah para da’i teladan.
e. Nafsu ingin meraih hasil
dakwah dalam waktu singkat, padahal dakwah termasuk pekerjaan yang membutuhkan
kesabaran prima. Hal ini berbeda dengan karakter jihad yang sifatnya lebih
mudah diprediksi menang kalahnya. Solusinya, kita serahkan hasil kepada Allah
karena kepentingan kita adalah melaksanakan dakwah. Allah berfirman: “Bukanlah
kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang
memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. dan apa saja
harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), Maka pahalanya itu untuk
kamu sendiri. dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan Karena mencari
keridhaan Allah. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu
akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya
(dirugikan).” (Q.S Al-Baqarah: 272)
“Dan
Sesungguhnya kami Telah mengutus Nuh kepada kaumnya, Maka ia tinggal di antara
mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar,
dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (Q.S Al-‘Ankabut : 14)
Nabi Nuh ‘alayhis
salam membutuhkan waktu 950 tahun untuk berdakwah dan menuntaskan kewajiban
kerasulan. Rentang masa sedemikian lama hanya mampu menghasilkan beberapa hasil
dakwah, yang tak sampai membuat perahu dengan teknologi jaman itu tenggelam
kerena jumlahnya. Salah satu riwayat menyebutnya 13 orang.
f. Niat yang tidak ikhlas. Dakwah
akan benar jika disertai niat yang ikhlas dalam rangka mencari ridha Allah dan
pelaksanaan kewajiban dari Allah. Tanpa kesadaran ini, dakwah yang kita lakukan
tak akan bertahan lama karena tidak memiliki “gantungan” di langit. Salah satu
yang paling merusak keikhlasan adalah ujub dan riya.
g. Sedikitnya kawan seiring.
Dalam dakwah, apalagi yang menyampaikan dakwah dengan muatan 100%, niscaya
sedikit orang yang menempuhnya. Setidaknya, sedikitnya kawan akan membuat
keyakinan dai mudah goyah karena silau dengan jumlah mayoritas. Oleh karenanya,
Al-Qur’an mengingatkan:
“Dan jika
kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan
menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti
persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Q.S
Al-An’am: 116)
h. Kelemahan potensi dan
kemampuan dakwah, misalnya merasa tidak bisa ceramah atau bacaan Al-Qur’annya
buruk. Semua ini tak boleh menghalangi semangat dakwah, asal dibarengi dengan
konsistensi belajar dan memperbaiki diri. Nabi Musa ‘alaihis salam memiliki
keterbatasan bicara, namun tetap saja mendapat perintah dari Allah untuk
berdakwah kepada Fir’aun.
i. Merasa situasi dan kondisi
tidak kondusif untuk dakwah. Perasaan ini harus ditepis, sebagaimana nabi Yusuf
‘alayhis salam tetap melakukan dakwah meski meringkuk di balik jeruji penjara.
Allah berfirman:
“Hai kedua
penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu
ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” (Q.S Yusuf:
39)
j. Menjadi sasaran kritik, baik karena kelemahan dirinya, keluarganya atau
materi dakwahnya. Kendala ini tak boleh menyurutkan semangat dakwah, karena tak
ada ada sebaik-baik orang kecuali memiliki musuh, dan tak ada sejahat-jahat
orang kecuali punya pengikut. Sunnatullah abadi yang tak lekang oleh perubahan
jaman. Bahkan bukan hanya manusia, Allah dan Rasul-Nya juga menjadi sasaran
kritik dan black capaign.
Nabi Muhammad Salallahu
‘alayhi wassalam mendapat predikat gila, paranormal, dan penyair. Bahkan Allah
disebut oleh kaum Nasrani sebagai salah satu dalam trinitas, Yahudi menyebut
tangan Allah terbelenggu, dan Allah disebut faqir sementara kaum Yahudi
dianggap lebih kaya.
Nabi Nuh ‘alayhis salam memiliki
kendala dakwah yang datang dari istri dan anaknya sendiri. Nabi Musa ‘alayhis
salam terkendala pernah hidup serumah dengan Fir’aun. Nabi Yusuf ‘alayhis salam
dikenal sebagai mantan napi. Nabi Luth tersandung kasus istrinya. Tapi semua
itu tak menghalangi dakwah mereka. Allah membuat isteri Nabi Nuh ‘alayhis salam
dan isteri Nabi Luth ‘alayhis salam sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir.
keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara
hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing),
Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah;
dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang
yang masuk (jahannam)”. (Q.S At-Tahrim: 10)
Allah berfirman: “Hai Nuh,
Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan
diselamatkan), Sesungguhnya (perbuatan)nya[*] perbuatan yang
tidak baik. sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak
mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu
jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (Q.S Huud: 46)
[*] Menurut pendapat sebagian ahli tafsir bahwa yang
dimaksud dengan perbuatannya, ialah permohonan nabi Nuh ‘alayhis salam agar
anaknya dilepaskan dari bahaya.
k. Tak tahu prioritas dakwah. Kendala ini bisa diatasi dengan merujuk
kepada nasehat Rasulullah saw kepada Muadz bin Jabal saat hendak diutus ke
Yaman untuk dakwah.
“ Engkau akan bertemu dengan masyarakat ahli kitab
(Nasrani). Jadikan tahap pertama dakwahmu adalah menyeru mereka kepada syahadat
la ilaha illallah. Bila mereka sudah menerima, ajarkan kepada mereka bahwa
Allah mewajibkan shalat lima waktu tiap hari. Bila mereka sudah menerima,
ajarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan sedekah (zakat) yang diambil dari
kaum kaya mereka untuk dibagi kepada kaum miskin mereka. Bila mereka sudah
mematuhinya, hindari mengusik harta berharga mereka. Takutlah kamu dengan doa
orang terzalimi, karena antara dia dengan Allah tak ada penghalang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
l. Tidak mau berbaur dengan masyarakat sehingga bisa menghayati
problematika mereka. Bisa jadi sebabnya karena tinggi hati atau malas.
m. Ambisi kekuasaan. Penyakit ini bisa merusak reputasi dai, sehingga bukan
semata dakwah terhenti karenanya, tapi bisa menimbulkan kebencian kepada Islam.
Terapi penyakit ini dengan meningkatkan keikhlasan dan belajar tawadhu’.
n. Tidak all out dalam dakwah. Padahal, untuk keberhasilan duniawi saja
manusia harus memikirkan dan bekerja tak kenal lelah. Nabi Nuh ‘alayhis salam memberi
contoh terkait ini:
“ Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku Sesungguhnya Aku Telah
menyeru kaumku malam dan siang. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari
(dari kebenaran). Dan Sesungguhnya setiap kali Aku menyeru mereka (kepada iman)
agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam
telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari)
dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian Sesungguhnya Aku Telah menyeru
mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Kemudian Sesungguhnya Aku
(menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam,” (Q.S Nuh: 5-9)
Wallahu a’lam
bisshowab.
Sumber:
Arrahmah.com - Peran besar muslimah dalam dakwah Islam
Shoutussalam.com - Najmach Wafa’. disadur dari majalah “usrotuna”
risalah 8
Sumaryatin Zarkasyi. 2010. Kontribusi
Muslimah dalam Mihwar Daulah. Solo: Era Adicitra Intermedia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar