Rabu, 03 Juli 2013

Muslimah dan Dakwah

A.  MUQODDIMAH

1.  Urgensi Dakwah

Urgensi dakwah bagi kita bisa dilihat dari tiga sudut pandang yaitu dari sisi pelaku, sisi obyek dan sisi penegakan Islam. Ketiganya saling terkait, yang jika dakwah tidak dilaksanakan dengan serius akan menimbulkan dampak buruk bagi ketiga aspek tersebut. Realitas masa kini menjadi cermin nyata lemahnya peran dakwah dalam memperbaiki kondisi masyarakat.



Pertama, sisi pelaku. Pelaku di sini bermakna setiap jiwa yang berstatus muslim/muslimah. Sebab dakwah merupakan naluri yang akan muncul secara otomatis jika seseorang sadar bahwa dirinya muslim. Maka bila ada muslim yang tak punya kesadaran dakwah, dia sedang tidak sadar bahwa dirinya berstatus muslim.Dakwah sebagai naluri sama halnya dengan naluri kebencian terhadap babi disebabkan keharamannya. Setiap muslim yang menyadari keislamannya, pasti memiliki naluri kebencian terhadap babi, minuman keras, kecabulan, kezaliman, perjudian, riba dan sebagainya. Sebagaimana naluri kecintaan terhadap kesalihan, kejujuran, keimanan, ketaqwaan, busana muslim, ungkapan islami dan sebagainya. Demikianlah dakwah, akan lahir sebagai naluri jika keislaman kita benar dan sadar berstatus muslim.Apalagi modal yang dibutuhkan untuk dakwah juga tidak harus menunggu menjadi ulama.

Rasulullah saw bersabda:

“Sampaikan apa yang engkau ketahui dariku meski satu ayat”. Juga sabdanya: “Siapa yang menunjukkan orang lain kepada kebajikan, ia akan mendapatkan pahala pelakunya”. (HR. Muslim)

Dapat dikatakan, dakwah merupakan kewajiban yang melakat pada jiwa raga seorang muslimah. Tak ada yang bisa dan boleh mengingkari kenyataan ini. Oleh karenanya, dalam Al-Qur’an dakwah diposisikan sebagai “alasan yang bisa diterima” untuk melepaskan diri dari beban dosa yang terjadi di tengah masyarakat.

Allah berfirman tentang ini:

”Dan (Ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Robbmu, dan supaya mereka bertakwa” (Q.S Al-A’raaf:164)

Da’i tak boleh ambil pusing dengan kekhawatiran bahwa dakwah yang disampaikan akan diabaikan oleh obyek dakwah, karena untuk hal ini kita serahkan kepada kekuasaan Allah semata. Misi da’i adalah melaksanakan kewajiban yang menjadi bebannya. Bila kita tak melaksanakannya, kita akan turut dipersalahkan kelak di akherat.

Kedua, sisi obyek. Bagi obyek dakwah, adalah upaya meluruskan pemahaman masyarakat dari berbagai penyimpangan pemikiran (syubuhat) dan menghentikan praktek dan amalan berdasarkan hawa nafsu (syahawat). Dua hal ini dipandang sebagai akar semua masalah keislaman. Dakwah berfungsi memberitahu bagi yang belum tahu, meluruskan jika masih ada yang keliru, dan mengajak semua obyek dakwah untuk turut serta memberikan kontribusi dalam mengamalkan dan menegakkan Islam. Islam bukan agama ilmu, atau spiritual semata, tapi juga agama yang hidup dalam dinamika amal dan perjuangan.Kita harus dengan sadar memahami bahwa obyek dakwah adalah orang-orang yang beragam corak dan warnanya. Baik dari segi mazhab, ilmu, suku, minat dan sebagainya. Tapi semuanya dipersatukan oleh satu kenyataan; mereka semua sedang membutuhkan dakwah meski lisannya mengaku tidak membutuhkannya.

Ketiga, sisi penegakan Islam. Islam ditegakkan dengan kombinasi antara dakwah dan jihad. Bila keduanya dibandingkan, dakwah lebih lama dibanding jihad. Bahkan bisa dikatakan, pada fase jihad dakwah tetap berlangsung.Dengan demikian, dakwah tak memiliki masa jeda dalam proses menagakkan Islam.Dakwah berlaku pada masa damai maupun masa perang, bahkan pasca Islam sudah tegak dengan kokoh. Dakwah bisa membonceng pada semua kegiatan yang digunakan dalam menegakkan Islam.


2.  Tujuan Utama Dakwah: Hidayah

Manusia tak akan selamat jika tak mengikuti hidayah (petunjuk kebenaran). Sebab manusia tak bisa merumuskan sendiri jalan hidupnya, dan menilai sendiri apa yang baik dan apa yang buruk bagi dirinya. Manusia dibatasi oleh akal dan pengalaman inderanya, yang karenanya tak mampu menilai secara obyektif terhadap dirinya sendiri. Manusia akan cenderung menganggap baik terhadap segala sesuatu yang sesuai dengan nafsu, keinginan dan idenya. Sementara sesuatu yang bertentangan dengan nafsu, keinginan dan idenya, akan dinilainya salah.

Hidayah harus dirumuskan oleh pihak selain manusia. Dirumuskan oleh zat Yang Maha Tahu dan Maha Kasih Sayang kepada manusia. Zat yang menciptakan manusia.Rasulullah saw diturunkan untuk menjelaskan hidayah ini, sehingga semua manusia memiliki neraca (mizan) yang bersifat baku, berlaku secara global dan lintas jaman. Neraca berguna untuk menengahi perbedaan ide akal manusia dan pengalaman hidupnya.Hidayah ada dua macam yang masing-masing dibutuhkan manusia:

Pertama, hidayah taufiq. Hidayah ini merupakan kewenangan dan karunia Allah yang Allah berikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Berupa kecondongan hati dan pikiran untuk menerima kebenaran. Hidayah ini kadang hadir tanpa direncanakan oleh manusia, bahkan tanpa diawali dengan proses berilmu atau memahami. Tapi tentu saja lebih sering melalui mekanisme ilmu baru lahir hidayah taufiq.Allah berfirman:

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (Al-Qashas:56)

Kedua, hidayah dalalah. Hidayah ini adalah ilmu dan penjelasan akan kebenaran. Hidayah ini terjadi melalui majlis ilmu, pendidikan dan dakwah. Peran da’i adalah mengajarkan ilmu dan menjelaskan kebenaran kepada obyek dakwah hingga mengerti. Allah berfirman:

Dan Demikianlah kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. (Q.S Asy-Syura:52)

Pada batas inilah kewajiban kita, yaitu memahamkan syariat kepada semua umat manusia. Tentu saja dengan dilengkapi semangat maksimal dan metode terbaik sehingga memudahkan dalam proses menyampaikan dan memahamkan. Da’i tidak boleh apatis, dan hanya bersandar pada argumen klasik:‘yang penting sudah saya sampaikan’.


3.   Tujuan Dakwah Muslimah

Dakwah yang diarahkan terhadap wanita muslimah harus berusaha untuk/ setidaknya melayani tujuan sebagai berikut:

Memperkuat Iman, Hal tersebut dilengkapi dengan kegiatan ibadah yang meningkat, mengingat Allah (berdzikir), dan refleksi pada nama Allah, dan kekuasaan-Nya dan penciptaan dalam diri kita dan di alam semesta. Namun ini, tidak akan mungkin tanpa penanaman pemahaman yang benar tentang isu-isu tertentu yang terkait dengan 'Aqidah kita, dan penekanan terhadap Tauhid.

Meningkatkan pengetahuan, Tanpa itu seseorang tidak bisa mencapai banyak. Penekanan khusus harus diletakkan pada dasar-dasar Islam dan pada mata pelajaran terkait kebutuhan bahwa da'iyah di lingkungan nya. Pengetahuan tentang paham, ide, kelompok dan sekte yang menyimpang dari Islam. Kesadaran harus dibangkitkan mengenai mereka yang tidak ingin melihat penyebaran Islam dan yang memperoleh dasar dalam hati dan pikiran orang-orang.

Membangun kepribadian Dakwah, Dakwah membutuhkan pengorbanan dan karena itu perempuan harus siap untuk menanggung ‘biaya' keuangan yang mungkin dikeluarkan untuk Islam. Ini datang dengan tujuan kebangkitan umat Islam dan mengkounter upaya-upaya musuh Islam. Kepemimpinan, tanggung jawab dan inisiatif individu harus diajarkan. Fakultas pendidikan teoritis dan praktis harus dipupuk. Para da'iyah harus diajarkan keterampilan sosial yang diperlukan dan pentingnya Dakwah melalui contoh yang baik dan tindakan. Mereka juga harus diajarkan  konsep nilai waktu, manajemen dan bagaimana menggunakan kegiatan yang menyenangkan dan halal selama waktu luang mereka.

Membangun kekebalan terhadap dosa, Ini termasuk mengenali penyakit-penyakit dosa, terutama yang berkaitan dengan perempuan, dan menghalangi jalan menuju dosa tersebut dengan menghindari hal-hal, kegiatan dan tempat yang akan menjadi pintu terbukanya dosa.Persiapan psikologis dengan memastikan bahwa da'iyah memiliki iman dalam ketulusan Allah, harapan, cakupan dalam kebenaran, kebanggaan dalam Islam, kesabaran, dan pengetahuan tentang kondisi dan lingkungan dari orang yang mereka menangani. Ini adalah aspek yang sangat penting dari kesiapsiagaan, karena pendakwah terikat kepada orang-orang, yang memiliki karakter dan kecenderungan yang berbeda.

Da'iyat yang memberikan kuliah, seminar, khotbah, dan lain-lain harus mampu membujuk para pendengar dengan mengatasi pikiran mereka melalui bukti dan bukti. Mereka juga harus mampu membangkitkan nafsu mereka, emosi, dan perasaan. Mereka harus berlatih menyampaikan ceramah untuk perempuan di masjid-masjid, sekolah, atau tempat lain di mana wanita berkumpul. Mereka juga harus mengawasi dan membimbing peserta wanita, dan dengan lembut memperbaiki kesalahan mereka.

Bidang kepenulisan dan penerbitan tidak boleh diabaikan dalam zaman ketika manusia dapat dengan mudah mengakses segala hal melalui buku, booklet, surat kabar, dan internet. Tulisan harus meyakinkan, melalui argumen yang jelas, dan disebarkan tentunya.Menulis adalah bentuk salah satu cara dakwah paling tepat dan penting bagi perempuan. Mereka dapat menulis di rumah dan dengan demikian mampu memanfaatkan waktu luang mereka secara positif dan tentunya dengan cara ini mereka dapat menjangkau semua kelas masyarakat.



B.  PERAN MUSLIMAH DALAM DAKWAH

1.  Pendamping Suami

Tidaklah berlebihan kiranya jika disebutkan bahwa di balik setiap laki-laki besar ada seorang wanita di belakangnya. Ada peran penting yang dimainkan seorang wania dalam mendukung kebesaran namanya. Apapun profesinya, apapun bidangnya, apapun kehebatannya. Mereka tak mungkin melaju ke depan sedemikian rupa dengan sendirinya. Selalu ada keuletan, kesabaran, kesetiaan, dukungan, pengorbanan dan doa seorang ibu atau seorang istri baginya.

Ketika Rasulullah Salallahu ‘alayhi wassalam diutus ke dunia, beliau bersabda, “Sesungguhnya wanita itu adalah pendamping pria” (HR Ahmad dan Abu Daud). Sejak saat itu paradigma pemikiran dan perlakuan terhadap wanita berubah seratus delapan puluh derajat. Derajat wanita diangkat dan dimuliakan. Wanita dikatakan sebagai pendamping pria karena pada setiap kesuksesan seorang pria, pasti ada peran wanita yang sangat signifikan. Apakah peran sebagai seorang ibu atau seorang istri. Banyak tokoh-tokoh menjadi penting dan terkenal lantaran ditopang oleh peran wanita. Maka, atas perannya yang demikian, wanita sering disebut sebagai tokoh penting di belakang layar.

Dalam suatu aktivitas dakwah, bukan hanya sosok laki-laki tetapi juga wanita mutlak diperlukan, seperti dicontohkan oleh para istri nabi dan shahabiyah pada generasi terdahulu. Bagaimana wanita juga ingin ikut dalam barisan dakwah rasulullah. Karena wanita-wanita tangguh tersebut tidak hanya ingin berdakwah di rumah, dengan menjadi istri dan ibu yang baik tetapi juga ingin berkontribusi di dunia luar. Akan tetapi ada satu hal yang mungkin banyak terlupakan oleh wanita muslimah pada era modern ini, dakwah kita di “dunia luar” tidak boleh mengabaikan kewajiban-kewajiban kita di rumah. Karena dakwah di rumah tetap nomor satu dan merupakan penyokong yang akan memberikan kita energi untuk juga aktif di luar rumah. Karena banyak kita ketahui, akhwat-akhwat yang dengan kesibukannya di luar secara tidak langsung mulai lengah dengan pembagian waktu dengan keluarga yag tidak seimbang dengan personal judgement bahwa di awal pernikahan sudah berkomitmen bahwa kepentingan dakwah di atas kepentingan keluarga. Padahal jelas-jelas tahapan dakwah itu dimulai dari pembentukan pribadi muslim (binaúl fardhil muslim), kemudian pembentukan keluarga muslim (binaúl usrah muslimah), dan setelah itu bisa ditangani baru masuk ke area dakwah yang lebih luas yaitu memperbaiki masyarakat (islahul mujtama’) atau bahkan sampai pada area dakwah untuk memperbaiki pemerintahan (islahul hukumah). Pembentukan pribadi muslim dan keluarga muslim menjadi syarat utama yang harus dipenuhi terlebih dahulu dan harus selalu dijaga oleh seorang muslimah sebelum mereka masuk ke area dakwah yang lebih luas lagi.

Peran muslimah dalam dakwah pada dasarnya memperkuat kerja dakwah pria. Setelah menikah, muslimah tak lagi sendiri. Ada suami yang menggenapkan separuh diennya. Berharap azzam dalam dakwah dan iqomatuddien semakin kuat dengan komitmen dan kebersamaan. Bersama menegakkan keluarga muslim ideal di tengah dasyatnya fitnah dunia. Bersinergi saling bahu membahu membangun tunas-tunas baru peradaban, saling meyempurnakan tugas dan kewajiban masing-masing meurut syariat Islam yang adil dan sempurna. 

Menilik jejak serajah islam, sejak dakwah Islam lahir pada tahun pertama kenabian, sejak saat itu pulalah peran muslimah dimulai. Maka kita pun mendapatkan hadits kedua Imam Bukhari menjadi bukti kontribusi pertama muslimah dalam dakwah. Saat Rasulullah tiba di rumah dari gua Hira dengan pengalaman spiritualnya yang luar biasa, beliau masih dalam ketakutan. Satu hal yang wajar sebab beliau baru saja bertemu dengan makhluk yang tidak biasa beliau lihat. Lebih dari itu beliau mendapatkan tanggungjawab besar sebagai nabi.

Dalam kondisi seperti itulah beliau berkata: "Zammilunii... zammilunii..." (Selimuti aku, selimut aku..). Khadijah mengerti. Ia melakukan perannya. Ia wanita pertama yang telah berhasil menyemaikan dakwah yang saat itu baru mengecambah agar tetap bertumbuh. Maka Khadijah tidak hanya menyelimuti Rasulullah agar kondisi fisiknya membaik. Lebih dari itu Khadijah memotivasi sang suami agar yakin bahwa tidak ada hal yang salah pada dirinya. "Jangan takut, demi Allah, Allah tidak akan membinasakan engkau. Engkau selalu menyambung tali persaudaraan, membantu orang yang sengsara, mengusahakan barang keperluan yang belum ada, memuliakan tamu, menolong orang yang kesusahan karena menegakkan kebenaran." Begitu pandainya Khadijah meyakinkan.

Tidak berhenti di situ. Khadijah juga membawa Rasulullah Salallahu ‘alayhi wassalam kepada pamannya. Waraqah bin Naufal, sang ahli kitab. Dari sanalah keyakinan keduanya semakin mantab. Ya, Muhammad telah menjadi Nabi. Maka sejak saat itu sejarah dakwah ditulis. Namun ia telah ditulis dengan adanya peran muslimah. Khadijah yang pertama kali percaya dan menjadi muslimah. Khadijah ummul mukminin radhiallahu ‘anha yang memberikan langkah awal dan teladan pertama bagi kiprah muslimah berikutnya.

Demikianlah sejarah Islam mencatat bahwa Khadijah binti Khuwailid radhiallahu ‘anha, istri Rasulullah Salallahu ‘alayhi wassalam adalah wanita yang pertama kali menyambut dakwah Islam, beliau juga memberikan kenyamanan, bantuan, dan dukungan kepada Nabi Muhammad Salallahu ‘alayhi wassalam, yang menjadikan bukti terbesar dari sangat pentingnya peran ini. Dan manusia pertama yang syahid di jalan Allah juga seorang wanita, yaitu Sumayyah.

Selain Khadijah dan Sumayyah radhiallahu ‘anhuma, masih banyak wanita-wanita Islam yang namanya abadi. Di antara mereka ada Aisyah radhiallahu ‘anha, Ummu Sulaim, Sumayyah, Nusaibah, Asma binti Abu Bakar, dan masih banyak wanita lain yang memegang peranan penting dalam perintisan dakwah Rasulullah Salallahu ‘alayhi wassalam di Mekkah dan Madinah.

Dalam realitas kehidupan seorang mujahid, seorang istri harus menyadari benar konsekwensi jalan yang ditempuhnya. Sehingga ia tidak berangan-angan sesuatu yang mustahil diraihnya. Dan implikasinya, ia bisa mengambil peran dan memberikan kontribusi yang tepat dan terbaik sesuai kemampuannya. Suaminya bukan seperti suami kebanyakan yang bekerja, pergi pagi pulang sore, membawa rizki dunia, selalu ada setiap saat, bercengkerama setiap hari dalam sebuah rumah yang nyaman serta angan-angan lain yang mungkin sempat menyelinap dalam hati dan fikiran manusiawi seorang istri. Jauhkanlah angan-angan itu yang membuat kita menjadi lemah dan pengecut. Kemuliaan bukan terletak pada seberapa banyak kita menikmati kehidupan dunia. Justru dunialah yang menjadi penghalang terbesar bagi seseorang untuk menapaki jalan kemuliaan, yakni jalan jihad fie sabilillah.

Ummul Mukminin, Khodijah adalah qudwah backup terbaik bagi dakwah dan perjuangan Rasulullah Salallahu ‘alayhi wassalam. Kepercayaan beliau, dukungan penuhnya dengan seluruh jiwa raga dan hartanya, perlindungannya, perasaan aman dan tentram yang beliau hadirkan di tengah kegundahan dan ketakutan Rasulullah saat menerima wahyu yang pertama kali, juga solusi nyata yang beliau berikan dengan mengajak Rasulullah menemui pamannya, Waraqah bin Naufal, adalah kenangan yang tak tergantikan bagi Rasulullah sehingga Aisyah pernah sangat cemburu kepadanya. Oleh sebab itu pula Jibril datang menyampaikan salam untuknya.

Marilah kita contoh keteladanan ini supaya hati kuat, sehingga kita bisa selalu mendampingi perjuangan suami, memudahkan dan membantu seluruh urusannya, bukan sebagai penghambat di jalannya. Allahu Musta’an.


2.  Dakwah Terhadap Muslimah yang Lain

Hal pertama yang perlu dilakukan aktifis dakwah muslimah adalah introspeksi. Introspeksi nasib kaumnya. Memahami realitas muslimah. Realitas muslimah sebagai pribadi, dalam keluarga, dan realitas masyarakatnya. Secara jujur kita akan menemukan kata kunci untuk menggambarkan realitas muslimah masa kini, lemah!

Sebagai pribadi, banyak muslimah di negeri ini yang masih mengalami kekeringan jiwa, tidak memahami tujuan penciptaannya, dan dilanda keputusasaan. Pendek kata, mereka masih jauh dari Islam. Seorang muallaf, Yusuf Islam (Dulu Cat Steven) ketika memberikan ceramah di Jakarta pada tahun 90-an, ia mengungkapkan keheranannya, tidak menyangka kalau di negeri ini berpenduduk mayoritas muslim. Karena ia melihat di jalan-jalan yang dilaluinya yang ia temukan justru wanita-wanita yang tidak menutup aurat.

Realitas keluarga di Indonesia tidak jauh berbeda dari kondisi di atas. Secara ekonomi banyak keluarga yang miskin dan bodoh secara pendidikan. Keduanya lalu dipertahankan oleh keluarga-keluarga baru yang terbentuk tanpa kesiapan yang memadai. Tidak siap membangun keluarga, juga tidak siap mendidik anak-anak yang lahir nantinya. Maka kemiskinan, kebodohan, ketidaksiapan itu seperti telah menjadi lingkaran setan yang sulit diputuskan.

Lalu masyarakat. Ia juga tidak lebih baik dari keduanya. Karena pada dasarnya masyarakat adalah bangunan besar dari keluarga-keluarga yang tentu saja terdiri dari individu-individu. Diantaranya adalah muslimah, yang bahkan menjadi unsur terbesar pembentuk masyarakat. Realitasnya, masyarakat kita saat ini telah terserang berbagai penyakit. Mulai dari individualisme, hedonisme, sekuler, sampai pornografi.

Realitas yang demikian, bagi aktivis dakwah muslimah, seharusnya menjadi pemicu dan tantangan tersendiri untuk meningkatkan kontribusinya dalam memperjuangkan Islam. Realitas ini -yang jika dipahami dengan baik- akan mendorong semakin kuatnya azzam untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Akan menjadi landasan mengapa muslimah harus berkontribusi dalam dakwah.

Berikut adalah beberapa alasan betapa pentingnya kontribusi perempuan dalam bidang Dakwah (terhadap Muslimah yang lain):

a. Wanita lebih mampu daripada laki-laki yang dalam berkomunikasi dengan perempuan lain. Wanita biasanya lebih dipengaruhi oleh kata, perbuatan, dan perilaku perempuan lain. Wanita lebih mampu mengenali kekhasan dan masalah yang terkait dengan pendidikan perempuan dan tarbiyah.

b. Wanita dapat memahami dengan lebih baik ke arah mana dakwah terhadap perempuan harus diarahkan. Mereka yang terbaik dapat melihat urutan prioritas, karena mereka lebih akrab dengan bidang ini.

c. Wanita lebih bebas daripada pria dalam berkomunikasi dengan perempuan lain, baik secara individual untuk kegiatan Dakwah, atau dalam kegiatan belajar, forum lain dan tempat-tempat pertemuan.

d. Banyak wanita Muslim yang membutuhkan bimbingan, pendidikan, namun kurangnya kehadiran lembaga yang dapat menyediakan layanan ini, karena itu sangat masuk akal bahwa perempuan yang berkualitas di masyarakat harus ‘menawarkan' diri sebagai pembimbing bagi saudari seimannya.

e. Permasalahan terkait pendidikan dan kebutuhan tarbiyah perempuan yang lebih besar dari laki-laki. Mereka hamil, melahirkan, dan merawat anak-anak. Anak-anak lebih terikat dengan ibu mereka daripada mereka kepada ayah mereka.

f.  Perempuan memiliki efek besar pada suami mereka. Jika mereka memiliki Iman yang kuat dan karakter, mereka memiliki kesempatan yang sangat baik untuk membantu suami mereka menjadi kuat juga.

g. Wanita memiliki banyak karakteristik yang menekankan pentingnya peran Dakwah mereka. Mereka juga harus diperhitungkan setiap kali ada pekerjaan Dakwah direncanakan.



C. KENDALA DAKWAH

Kini kita hidup di era yang berbeda. Sejarah dakwah telah berusia lebih dari empat belas abad sejak muslimah pertama berperan menyokongnya. Kita kini hidup di abad modern yang memiliki karakteristik zamannya sendiri. Banyak hal yang telah berubah. Meski demikian dakwah terhadap perempuan adalah keharusan, bahkan perempuan sendiri juga terikat akan kewajiban berdakwah. Karena pada dasarnya berdakwah adalah kewajiban bagi seluruh Muslim. Terlebih dari kaum perempuan sendiri cenderung, ‘meninggalkan' dan menjauhi aktivitas dakwah itu sendiri. Hal tersebut memunculkan beberapa permasalahan dan hambatan berupa kurangnya tenaga dakwah dari kaum perempuan, antara lain:
  • Kurangnya kemampuan Dakwah oleh perempuan.

  • Terbatasnya sumber daya serta kurangnya inisiatif pribadi pada pihak perempuan.

  • Adanya pengabaian atau kelalaian terhadap isu-isu perempuan dalam perencanaan Dakwah Islam.

  • Tidak adanya tarbiyah yang kuat dan kurangnya pengetahuan Islam di bidang Dakwah.

  • Kebanyakan wanita tidak memiliki pemahaman yang tepat terkait peran Dakwah, karena itu, mereka tidak dapat memahami pentingnya waktu yang diberikan untuk proyek-proyek dakwah di luar rumah, sehingga seringkali menimbulkan permasalahan dalam rumah tangga dikarenakan ‘suami yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk urusan dakwah.
  • Program dakwah oleh lembaga terhadap wanita belum terorganisasi dengan baik.
Selain permasalahan tersebut, juga ada banyak kendala dalam melaksankan dakwah ilallah, diantaranya:

a. Kendala psikologis, seperti munculnya rasa cemas dan takut yang dihembuskan syetan di dada kaum muslimin. Allah berfirman:

“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Q.S Al-Imran: 175)

b. Adanya hambatan nyata yang datang dari obyek dakwah seperti caci maki, cuek, memusuhi, mengusir dan sebagainya. Ibnu Taimiyah berkata: Ujian dan kendala ibarat siang dan malam, pasti akan datang silih berganti. Siapa yang memahami fakta ini, ia tak akan kesal atau murung karenanya.

c. Kemiskinan yang menimpa para da’i sehingga menghambat dakwah. Kemiskinan menjadi penghambat jika seseorang tidak kuat azamnya. Namun jika azam atau tekadnya bergejolak, kemiskinan bukanlah hambatan. Tapi kerap terjadi sebaliknya, kekayaan yang lebih potensial melemahkan semangat dakwah.

d. Mental dakwah yang labil, sehingga semangatnya tak bertahan lama. Pasca daurah semangat dakwah tinggi, tapi setelah sibuk dengan rutinitas pekerjaan kembali kendur semangatnya. Solusinya, berkawan dengan para da’i dan membaca kisah-kisah para da’i teladan.

e. Nafsu ingin meraih hasil dakwah dalam waktu singkat, padahal dakwah termasuk pekerjaan yang membutuhkan kesabaran prima. Hal ini berbeda dengan karakter jihad yang sifatnya lebih mudah diprediksi menang kalahnya. Solusinya, kita serahkan hasil kepada Allah karena kepentingan kita adalah melaksanakan dakwah. Allah berfirman: “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), Maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan Karena mencari keridhaan Allah. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Q.S Al-Baqarah: 272)

“Dan Sesungguhnya kami Telah mengutus Nuh kepada kaumnya, Maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (Q.S Al-‘Ankabut : 14)

Nabi Nuh ‘alayhis salam membutuhkan waktu 950 tahun untuk berdakwah dan menuntaskan kewajiban kerasulan. Rentang masa sedemikian lama hanya mampu menghasilkan beberapa hasil dakwah, yang tak sampai membuat perahu dengan teknologi jaman itu tenggelam kerena jumlahnya. Salah satu riwayat menyebutnya 13 orang.

f.  Niat yang tidak ikhlas. Dakwah akan benar jika disertai niat yang ikhlas dalam rangka mencari ridha Allah dan pelaksanaan kewajiban dari Allah. Tanpa kesadaran ini, dakwah yang kita lakukan tak akan bertahan lama karena tidak memiliki “gantungan” di langit. Salah satu yang paling merusak keikhlasan adalah ujub dan riya.

g.  Sedikitnya kawan seiring. Dalam dakwah, apalagi yang menyampaikan dakwah dengan muatan 100%, niscaya sedikit orang yang menempuhnya. Setidaknya, sedikitnya kawan akan membuat keyakinan dai mudah goyah karena silau dengan jumlah mayoritas. Oleh karenanya, Al-Qur’an mengingatkan:

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Q.S Al-An’am: 116)

h. Kelemahan potensi dan kemampuan dakwah, misalnya merasa tidak bisa ceramah atau bacaan Al-Qur’annya buruk. Semua ini tak boleh menghalangi semangat dakwah, asal dibarengi dengan konsistensi belajar dan memperbaiki diri. Nabi Musa ‘alaihis salam memiliki keterbatasan bicara, namun tetap saja mendapat perintah dari Allah untuk berdakwah kepada Fir’aun.

i. Merasa situasi dan kondisi tidak kondusif untuk dakwah. Perasaan ini harus ditepis, sebagaimana nabi Yusuf ‘alayhis salam tetap melakukan dakwah meski meringkuk di balik jeruji penjara. Allah berfirman:

“Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” (Q.S Yusuf: 39)

j. Menjadi sasaran kritik, baik karena kelemahan dirinya, keluarganya atau materi dakwahnya. Kendala ini tak boleh menyurutkan semangat dakwah, karena tak ada ada sebaik-baik orang kecuali memiliki musuh, dan tak ada sejahat-jahat orang kecuali punya pengikut. Sunnatullah abadi yang tak lekang oleh perubahan jaman. Bahkan bukan hanya manusia, Allah dan Rasul-Nya juga menjadi sasaran kritik dan black capaign.

Nabi Muhammad Salallahu ‘alayhi wassalam mendapat predikat gila, paranormal, dan penyair. Bahkan Allah disebut oleh kaum Nasrani sebagai salah satu dalam trinitas, Yahudi menyebut tangan Allah terbelenggu, dan Allah disebut faqir sementara kaum Yahudi dianggap lebih kaya.

Nabi Nuh ‘alayhis salam memiliki kendala dakwah yang datang dari istri dan anaknya sendiri. Nabi Musa ‘alayhis salam terkendala pernah hidup serumah dengan Fir’aun. Nabi Yusuf ‘alayhis salam dikenal sebagai mantan napi. Nabi Luth tersandung kasus istrinya. Tapi semua itu tak menghalangi dakwah mereka. Allah membuat isteri Nabi Nuh ‘alayhis salam dan isteri Nabi Luth ‘alayhis salam sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)”. (Q.S At-Tahrim: 10)

Allah berfirman: “Hai Nuh, Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), Sesungguhnya (perbuatan)nya[*] perbuatan yang tidak baik. sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (Q.S Huud: 46)

[*] Menurut pendapat sebagian ahli tafsir bahwa yang dimaksud dengan perbuatannya, ialah permohonan nabi Nuh ‘alayhis salam agar anaknya dilepaskan dari bahaya.

k. Tak tahu prioritas dakwah. Kendala ini bisa diatasi dengan merujuk kepada nasehat Rasulullah saw kepada Muadz bin Jabal saat hendak diutus ke Yaman untuk dakwah.

“ Engkau akan bertemu dengan masyarakat ahli kitab (Nasrani). Jadikan tahap pertama dakwahmu adalah menyeru mereka kepada syahadat la ilaha illallah. Bila mereka sudah menerima, ajarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan shalat lima waktu tiap hari. Bila mereka sudah menerima, ajarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan sedekah (zakat) yang diambil dari kaum kaya mereka untuk dibagi kepada kaum miskin mereka. Bila mereka sudah mematuhinya, hindari mengusik harta berharga mereka. Takutlah kamu dengan doa orang terzalimi, karena antara dia dengan Allah tak ada penghalang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

l. Tidak mau berbaur dengan masyarakat sehingga bisa menghayati problematika mereka. Bisa jadi sebabnya karena tinggi hati atau malas.

m. Ambisi kekuasaan. Penyakit ini bisa merusak reputasi dai, sehingga bukan semata dakwah terhenti karenanya, tapi bisa menimbulkan kebencian kepada Islam. Terapi penyakit ini dengan meningkatkan keikhlasan dan belajar tawadhu’.

n. Tidak all out dalam dakwah. Padahal, untuk keberhasilan duniawi saja manusia harus memikirkan dan bekerja tak kenal lelah. Nabi Nuh ‘alayhis salam memberi contoh terkait ini:

“ Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku Sesungguhnya Aku Telah menyeru kaumku malam dan siang. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan Sesungguhnya setiap kali Aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian Sesungguhnya Aku Telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Kemudian Sesungguhnya Aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam,” (Q.S Nuh: 5-9)

Wallahu a’lam bisshowab.



Sumber:

Arrahmah.com - Peran besar muslimah dalam dakwah Islam




Shoutussalam.com - Najmach Wafa’. disadur dari majalah “usrotuna” risalah 8

Sumaryatin Zarkasyi. 2010. Kontribusi Muslimah dalam Mihwar Daulah. Solo: Era Adicitra Intermedia










Tidak ada komentar:

Posting Komentar